Gribs oleh : Hans Miller Banureah

Category: Music
Genre: Rock
Artist: GRIBS (GONDRONG KRIBO BERSAUDARA)

cover

ROCK NEVER DIE. Ada saja yang muncul, bahkan kadang tak terduga. Di tengah belantara musik (industri) yang ”dikendalikan” pun, dia bisa mencuatkan diri. Tidak ada yang aneh, karena semua manusia berhak mutlak menentukan genre musik yang digemari, digandrungi, dan disukai.

Rock adalah salah satu genre yang punya kelas, tapi sering kali tak punya tempat, terutama ketika jalur musik tengah dibisingkan oleh genre-genre yang senada, segaris dan seirama. Pastikan saja, masa-masa beberapa tahun belakangan, band yang muncul menjelajah di bumi industri musik Indonesia, meliuk-liuk lewat suara-suara manis yang mendendangkan irama-irama melow. Jadilah meratap-ratap (masih lebih jujur zaman Rinto, sekalian dia memastikan jalur, pop melankolis). Yang sekarang, kadang gitarnya meraung-raung layaknya raungan anak metal, tapi melodinya wuih, perih. Tak usahlah menyebut contoh karena kita semua bisa dengan mudah menyebutnya sendiri-sendiri.

Semua berhak menentukan jalur. Apalagi kalau warna apapun yang diusung, ternyata pasar menerimanya?
Maka semua harus dikembalikan kepada insan musiknya. Sebab pada akhirnya, merekalah yang mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan.

GRIBS, Gondrong Kribo Bersaudara, adalah sebuah band yang setidaknya memberikan jawaban sebuah kenekatan untuk berbuat sesuai dengan kata hati. Sesuai dengan isi nurani.
Hal pertama yang mencuat dalam hati, sejak melihat GRIBS dua tahun belakangan mengusung rock n roll asli, adalah sebuah pertanyaan, kok bisa anak-anak muda seperti mereka seperti dikembalikan ke sebuah masa yang sangat jauh dari jangkauan mereka?

Aliran (genre) adalah sebuah ketetapan. Yang dipastikan dari sebuah proses. Proses yang dijalani GRIBS adalah adaptasi terhadap apa saja yang dieksplor. Rock menjadi sesuatu yang nyangkut. Sesuatu yang menjadi sebuah ketetapan dalam nurani mereka. Maka, sepakatlah Reza, vokal, Dion, gitar, Arief, bas dan Rashta, drum menyetubuhi rock sepenuh hati. Menggumulinya dengan tekun, memahaminya dengan fasih. Sampai akhirnya persetubuhan mereka dengan rock melahirkan ”anak”, sebuah album yang ciamik.
Gondrong dan kribo menjadi ciri khas, layaknya anak rock era 70an. Komposisi 12 lagu yang ditawarkan pun, adalah komposisi rock n roll sejati. Nada-nada tinggi yang dijelajah dengan lengking dan serak, menjadi ciri Reza. Sound rock n roll yang aslipun mereka tawarkan dengan manis.
Inilah upaya yang cantik, meski kelak pasar akan mengujinya. Tapi setidaknya, GRIBS telah memastikan langkah, membuat rasa deg-degannya pecinta rock n roll yang kehilangan band, sirna. Mereka punya harapan lagi. Ada yang care, ada yang mendalami dan mencoba memahami, mengeksplorasinya dengan dalam.

Proses panjang memang mau tak mau harus dijalani. Dalam proses panjang perjalanan mereka, salah satu keuntungan yang didapat adalah, ”nyangkut”nya mereka ke tangan Remy Soetansyah, yang memahami betul musik rock itu seperti apa, dan pergaulannya luas di dunia itu. Remy menjadi mentor beberapa waktu, yang membuat GRIBS makin percaya diri.

Maka, bergegaslah wahai penggemar rock n roll ke toko-toko CD, cari album GRIBS yang bisa menyejukkan hati.

Hans Miller Banureah
taken from http://hansmiller.multiply.com/reviews/item/9

Video Clip : Rocker

Selamat menikmati :)

The Sandro Rayhansyah Review : Gribs – Gondrong Kribo Bersaudara

Sumber : Facebook.com

Artist : Gribs
Album : Gondrong Kribo Bersaudara
Year : 2009
Score : 7,5 of 10

musik rock 80′an versi 00′an

Ternyata di tahun 2009, masih ada sekelompok anak muda yang berani tampil dengan rambut gondrong kribo bak Motley Crue ataupun Guns N Roses, beratribut celana kulit ketat, lengkap dengan jaket hitam ataupun sampai yang bermotif macan tutul sekalipun. Dipersatukan atas tali persaudaraan, kecintaan yang sejati terhadap musik rock, dan fashion glam rock/hair metal 80′an, Gribs (Gondrong Kribo Bersaudara) rela menjual diri mereka atas nama rock. Dan mereka pun menyebutnya sebagai R.O.C.K yang benar-benar R.O.C.K.

Seurius mungkin bisa disebut sebagai pionir hair metal Indonesia generasi modern. Mereka memang lebih dulu untuk urusan rambut gondrong kribo (walau memakai wig), jeans bermotif macan tutul hingga ular kobra, dan mempermalukan musik jazz atas nama musik metal. Namun sayangnya mereka terlalu banyak melucu. Beruntung Gribs datang bagai penyelamat hair metal Indonesia dalam terminologi yang lebih serius, dan yang bukan sebagai objek lucu-lucuan. Dalam interview mereka dengan Rolling Stone Indonesia, mereka berani bersuara “Sudah cukup musik rock dipermalukan/musik rock sakral bagi kami”.

Keseluruhan nomor-nomor di debut mereka ini adalah sensasi kejayaan musik hard rock 80′an. Ketika fondasi hard rock Van Halen terpengaruh panjangnya rambut dan keglamoran hair metal ala Motley Crue hingga Bon Jovi, namun dengan nuansa Indonesia layaknya God Bless di era Semut Hitam minus Yockie Suryoprayogo, dengan sedikit aksen metal agresif layaknya Roxx di Black Album. Ada “Rocker” yang menjadi jelmaan “Rock Bergema” versi abad terkini, “Ketika” yang berformula ballad yang menyaingi keagungan ballada metal ala Loudness ataupun X-Japan, dan ada juga anthem penyembahan rock sebagai suatu kepercayaan pada “Rock Bersatu” yang mengingatkan pada power metal 80′an ala Iron Maiden. Sisanya? nomor-nomor rock di album debut ini masih mengingatkan kita pada zaman peradaban rock yang liar (dengan rambut yang liar juga tentunya). Benar-benar suatu persembahan rock yang murni tanpa basa basi.

Mereka mempunyai vokalis yang hebat. Rezanov bersuara tinggi melengking bak Axl Rose muda di jaman Appetite of Destruction yang terasuki roh Robert Plant dengan penjiwaan yang surgawi. Tidak seperti Seurius, kadang saya merasa geli ketika mendengar Candil Seurius mengumbar-umbar teriakan dia yang memang tinggi beroktav-oktav. Namun, Gribs mempunyai seorang Rezanov yang tidak bernyanyi seperti Candil, dia bernyanyi dengan jujur. Teriakan dia di sepanjang lagu bukanlah teriakan yang disengaja untuk dijadikan objek pamer. Ada ‘passion’ yang benar akan lirik yang dia nyanyikan yang bersifat komplemen dengan musik yang Gribs bawakan. Sehingga tak sulit bagi saya untuk menerima lirik-lirik seperti “Rocker”, “Ketika”, hingga “Sangat Peramal” yang seharusnya terlihat relatif tipikal dan membuat geli (terkadang) ketika anda membaca lirik-lirik itu di booklet cd mereka.

Walau Gribs berusaha melangkahkan kaki mundur dua dekade kebelakang, album ini tetap terdengar sangat menyegarkan. Kadar rock yang total dengan skill bawaan yang sangat mumpuni pada konteks musikal masing-masing personil jelas adalah hal yang tak dapat disanggah. Sebuah album debut yang menyenangkan dari band rock dengan seribu potensi. Atas nama rock, milikilah segera album ini.

Sandro Verdiantoro Rayhansyah
Freelance Rock Journalist
Student in University of Indonesia’s Faculty of Economics
thesandrorayhansyah.blogspot.com

GRIBS @ Rolling Stone Indonesia

Vokalis Rezanov, gitaris Dion Arnaldo, bassis Arief Tri Satya, dan drummer Rashta adalah empat anak muda dengan gairah yang begitu besar pada musik rock dan menyatukan diri mereka di bawah nama GRIBS, yang merupakan akronim dari “Gondrong Kribo Bersaudaraā€¯pilihan gaya rambut mereka jadi alasannya.

Album perdana mereka yang berjudul Gondrong Kribo Bersaudara sudah dirilis ke pasaran. Itu adalah modal mereka untuk masuk ke dalam industri musik, dalam rangka ingin dikenal sebagai musisi rock dan menyelamatkan musik rock di Indonesia. Harapan mereka tak tanggung-tanggung: ingin jadi legenda musik rock.

Selengkapnya di : http://www.rollingstone.co.id/read/2009/10/05/280/1/1/Kami-Ingin-Membuat-R.O.C.K.-yang-benar-benar-R.O.C.K

Lebih lanjut :

[ Review Album GRIBS ]
[ GRIBS @ Hard Rock cafe ]

Photos : GRIBS in Concerts

Java Rockin’ Land Agustus 2009 :

Rock Parade :

others :